PESANTREN IIQ

- INSTITUT - ILMU - QUR'AN - JAKARTA -

ARTIKEL IIQ

Membumikan Ilmu Qira’ah

Ilmu Qiraah al-Quran berperan cukup penting dalam menentukan bacaan al-Quran sesuai dengan apa yang pernah Allah wahyukan kepada Rasulullah. Tak hanya itu, bacaan al-Quran dengan qiraah yang berbeda-beda kerap menentukan makna dan berpengaruh terhadap istinbath hukum.

Berbicara mengenai ilmu Qiraah, pagi itu, Kamis, 14 November, peserta Pendidikan Kader Mufassir hanyut dalam uraian penjelasan yang diampu oleh KH Dr Ahsin Sakho Muhammad, MA. yang tak lain ialah tim lajnah pentashih mushaf al-Quran sekaligus Rektor Institut Ilmu Al-Quran. Beliau tak hanya piawai dalam memberikan paparan mengenai ilmu Qiraah, namun beliau mencontohkan beberapa bacaan al-Quran lengkap dengan versi Qiraah Sab’ah dan Qiraah Asyr. Peserta pun antusias, karena menyadari bahwa mempelajari ilmu Qiraah itu penting, mengingat banyaknya bacaan yang hadir di tengah-tengah masyarakat.

“Namun akhirnya, masyarakat menjadi bingung karena belum ada kaidah yang mencari riwayat shohih dan tidak shohihnya sanad, untuk dijadikan rujukan bacaan,” ungkap KH Ahsin yang pagi itu berbalut kemeja batik.

Menurut beliau, sudah saatnya perlu dirumuskan suatu kaidah agar masyarakat perlahan namun pasti dapat memahami, lalu mereka aplikasikan dalam bacaan al-Quran sehari-hari. Dan pemahaman terhadap masyarakat terhadap ilmu Qiraah sekiranya perlu diberikan wawasan bahwa ada dua persyaratan besar yang harus dijadikan landasan agar sebuah qiraah dapat dipraktikan. Pertama, persyaratan fisik (terlihat) yaitu harus sesuai dengan Rasm Utsmani. Kedua, persyaratan non fisik, beberapa di antaranya ialah harus sesuai dengan kaidah bahasa Arab, sanadnya mutawatir, sanadnya juga shahih dan materi bacaannya masyhur (dikenal) di tengah-tengah masyarakat.

“Jika kedua persyaratan fisik dan non fisik itu tidak ada, maka bacaan itu ditolak,” tegasnya

Penjelasan Dr Ahsin melahirkan banyak pertanyaan dari sejumlah peserta. Yudi Sirojuddin Latif, salah satu peserta mengawali sesi tanya jawab yang dibuka langsung oleh Dr Ahsin. “Saya belajar al-Quran di kampung, Pak, yang notabene pengajar al-Quran pasti tidak begitu mendalami ilmu qiraah ini secara mendetail. Itu bagaimana Pak?”

“Tidak masalah. Berpijak kepada pendapat Imam As-Suyuthi dalam al-Itqan, bahwa mengajar al-Quran tidak perlu memprioritaskan sanad. Yang terpenting ialah harus sesuai dengan kaidah. Namun saya yakin, setiap guru belajar dari gurnya. Guru di atasnya belajar dari gurunya, begitu seterusnya. Insya Allah, bacaannya sesuai dengan kaidah,” jelas Dr Ahsin

Pentingnya ilmu qiraah sebagai ilmu matang yang tak akan pernah berubah karena tidak ada ruang ijtihad, memang membutuhkan waktu lama baik untuk dipelajari maupun untuk diajari. Ulama-ulama ahli qiraah yang sangat berjasa dalam membumikan ilmu qiraah, menyatukannya dari ribuan kitab hingga dapat terangkum menjadi qiraah sab’ah maupun qiraah asyr ialah Ibn Mujahid, selanjutnya, Imam Ibn Jazari juga menulis kitab Ad-Durrah. Sedangkan Imam Syathibiyyah, juga sangat berperan dalam keilmuan ini. KH Ahsin pun menjelaskan isi kitab Syaathibiyyah secara garis besar dan memaparkan bahwa dalam kitab itu diawali dengan muqaddimah dan dilanjutkan bahwa setiap imam dan rawi memiliki kode dan rumus ijtima’i .

“Belajar qiraah itu memang harus sabar dan pelan-pelan. Hari ini belajar satu bab, pertemuan berikutya diulang lagi. Begitu seterusnya,”

Selanjutnya, pertanyaan muncul dari Alivermana, beliau bertanya mengenai qiraah yang beredar di Indonesia.

“Qiraah Imam Hafsh ialah qiraah yang digunakan oleh sebagaian besar masyarakat dunia, terlebih Indonesia,”

Ada beberapa alasan mengapa sebagian besar umat islam di dunia berpijak kepada qiraah Imam Hafsh. Menurut beliau, Imam Hafsh ialah Qari yang sangat aktif menyebarkan dan mengamalkan ilmunya, materi Imam Hafsh pun ringan dan mudah dipahami seperti jumlah imalah dan isymam yang tidak banyak. Terakhir, faktor eksternal atau karunia Allah ditambah saat ide pencetakan al-Quran itu muncul, qiraah yang tekenal dan berkembang di mayarakat ialah qiraah Imam Hafsh.

Setidaknya, beberapa alasan itulah yang menyebabkan qiraah imam hafsh menempati ¾ % dari seluruh dunia. Kedua, qiraah imam Warsy dan Qalun yang banyak dipraktikkan di daerah Afrika Utara dan terakhir imam Ad-Duri yang banyak digunakan daerah Afrika bagian selatan.

Bagaimana pun banyaknya perbedaan dalam bacaan, ini menjadi tanggungjawab kita bersama sebagai akademisi sekaligus pecinta al-Quran untuk memperkenalkan ilmu qiraah dan membumikannya.[ditulis oleh Ina Salma Febriani dalam Perkuliahan PKM-PSQ bersama DR. Ahsin Sakho Muhammad)

Sumber: http://psq.or.id/?p=1908

 

voice of iiq

KOLOM PENGASUH