PESANTREN IIQ

- INSTITUT - ILMU - QUR'AN - JAKARTA -

ARTIKEL IIQ

7 Kunci Sukses dari Surah al-Fatihah

Oleh: M. Ulinuha Husnan, MA.

Selama ini kita membaca Surah al-Fatihah, berkali-kali sehari semalam, terutama dalam shalat kita. Kita membacanya begitu saja sebagai ibadah. Dibalik itu semua, dibalik Surah al-Fatihah yang sering juga disebut sebagai Sab’ul Matsâni, karena memang 7 (tujuh) ayat yang dibaca berulang-ulang. Ternyata ada 7 (tujuh) rahasiah sukses.

Tujuh kunci sukses yang ada dalam Surah al-Fatihah ini, sesungguhnya adalah tujuh kunci untuk bisa sukses di dunia dan akhirat, bukan kunci sukses di dunia saja. Tujuh kuci sukses dari Surah al-Fatihah itu biasa disebut dengan singkatan B5KB.

B pertama, adalah basmalah, yang merupakan ayat pertama dari Surah al-Fatihah. Di sini ada basamalah, di mana ini menandakan bahwa setiap kita melakukan sesuatu haruslah atas dasar karena dan untuk Allah semata. Melakukan sesuatu ikhlas hanya untuk Allah. Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW bersabda: “kullu amrin dzî bâlin lâ yubda’u bi bismillah fahuwa ‘aqtha’ (setiap pekerjaan baik yang tidak dimulai dengan membaca basmalah, maka sia-sia). Hadits ini menekankan bahwa dalam beramal, apa pun itu, seorang muslin hendaknya beramal hanya dan untuk Allah semata. Bukan untuk yang lain. Dan dengan basmalah ini, dalam setiap kita melakukan sesuatu, berarti kita harus meyakini bahwa Allah lah yang Maha Berkuasa atas apa yang terjadi, apa yang kita kerjakan itu hanyalah wasilah belaka, hasil akhir dari setiap apa yang kita kerjakan itu hanya Allah yang menentukan.

Dalam kalimat basmalah ada dua sifat Allah disebutkan, yaitu al-Rahmân dan al-Rahîm. Ini menunjukkan atau mengisyaratkan bahwa seorang muslim yang baik dan menginginkan sukses di dunia dan akhirat, maka hendaknya bersikap penuh kasih sayang, penuh rahman dan rahim. Tidak semena-mena dan gampang marah-marah.

kedua, yaitu bersyukur, ini sesuai dengan ayat alhamdulillahi rabbi al-âlamîn (segala puji bagi Allah yang Maha Pemelihara seluruh alam). Alhamdulillah ini kita ucapkan bila kita bersyukur kepada Allah SWT. Apapun dan dari mana pun datangnya nikmat kepada kita maka sesungguhnya nikmat itu datang dari Allah SWT. Kita bekerja,lalu mendapatkan gaji atau bayaran, seolah-olah itu dari pekerjaan kita, seolah-olah itu dari majikan,bos atau kantor kita, tetapi sesungguhnya nikmat itu datang dari Allah SWT.

ketiga, yaitu berfikir positif. Ini diambil dari ayat berikutnya, yitu al-Rahmân al-Rahîm, yang artinya bahwa Allah SWT itu memiliki sifat sebagai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Karena Allah kedua sifat itu, maka artinya Allah sangat baik, dangat sayang kepada kita. Dengan demikian maka kita akan selalu optimis dengan apa yang kita lakukan. Kadang kita merasa pasimis, karena doa-doa kita, kita kira tidak dikabulkan Allah. Kadang kita merasa pasimis, cita-cita dan harapan kita tidak tercapai, kadang kita merasa pasimis karena kenyataan hidup kita adalah yang bukan kita inginkan.Tetapi dengan mengetahui bahwa Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka kita akan menjadi orang yang selalu optimis, karena bagaimana pun keadaan kita, kita akan selalu yakin bahwa Allah menyayangi kita.

B keempat, adalah berwawasan  jauh ke depan. Ini diambil dari ayat yang berbunyi mâliki yaûm al-dîn (Dialah Allah yang Menguasai Hari Akhirat). Artinya berwawasan jauh ke depan di sini, seorang muslim dalam setiap langkahnya, mesti mempertimbangkan segala akibatnya ke depan, baik hari-hari sesudahnya, dan terutama adalah di hari akhirat. Artinya di sini kita dituntut berwawasan akhirat, berorientasi akhirat.

B kelima, adalah beribadah. Ini diambil pelajaran dari iyyâka na’budu wa iyyaka nasta’în (hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan). Dalam hal ini,salah satu kunci agar kita sukses di dunia dan akhirat, adalah kita harus rajin beribadah. Dan ibadah yang paling baik adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus meski sedikit.

Keenam, K, konsisten, atau istiqamah. Ini diambil pelajaran dari ihdinâ al-shirât al-mustaqîm (tunjukkilah kami jalan yang lurus). Istiqamah itu bukan hanya setiap saat setiap hari begitu-begitu saja, tetapi istiqamah, itu berarti konsisten, beramal, bekerja, melakukan kebaikan, secara konsistsen. Insya Allah bila kita konsisten, istiqamah dengan pekerjaan kita, buahnya akan terlihat juga.

Ketiga, B, bercermin. Dalam kehidupan, orang bisa sukses kalau bercermin. Kalau sebelumnya kita harus konsisten dangan belajar dari nilai luhur yang terkandung dalam ayat ihdinâ al-shirâth al-mustaqîm (tunjukanlah kami ke jalan yang lurus), jalan siapakah itu? Yaitu shirât al-ladzîna an’amta ‘alaihim (jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat), siapakah itu? Yaitu min al-nabiyyîn wa al-syuhadâ wa al-shâlihîn (para Nabi, para syuhada dan orang-orang sholeh). Artinya apa? Untuk menjadi orang sukses, salah tau kuncinya adalah dengan bercermin atau menteladani orang-orang sukses, yaitu pada Nabi, para syuhada dan orang-orang shaleh. Wallahu a’lam bi al-shawab.

___________________

Tulisan ini adalah Kultum Ba’da Zhuhur M. Ulinuha Husnan, MA di IIQ Jakarta pada 30/07/2013, ditulis oleh Ali Mursyid

 

voice of iiq

KOLOM PENGASUH