PESANTREN IIQ

- INSTITUT - ILMU - QUR'AN - JAKARTA -

ARTIKEL IIQ

Dr. Asep Saepudin Jahar: Karakter Orang Bertakwa

Di dalam al-Qur’an disebutkan, yâ ayyuha a-ladzîna âmanû kutiba ‘alaikum al-shiyyâm kamâ kutiba ‘ala al-ladzîna min qablikum la’allakum tattaqûn. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”.

Pertanyaannya kemudian adalah, yang disebut al-muttaqîn atau orang bertakwa itu yang seperti apa? Ada disebutkan dalam ayat al-Qur’an yang lainya, wa al-sari’û ila maghfirati min rabbikum wa jannatin ‘ardhua al-samâwâti wa al-ardhi u’iddat li al-muttaqîn, ….al-muttaqîn di sini, disebutkan al-ladzîna yunfiqûna fi al-sarra wa al-dharra, wal kazhimîna al-ghaidh wal ‘afîna ‘an al-nâs. Artinya: “orang orang yang menfkahkan hartanya di saat senang dan saat sempit, yang mampu mengendalikan amarahnya dan bisa memafkan kesalah orang lain.

Jadi al-muttaqîn atau orang yang bertakwa, adalah mereka yang aktif, dalam arti: Pertama, yang bisa memberi sesuatu yang dibutukan orang lain, saat dia punya atau tidak punya. Orang takwa itu adalah yang bisa membantu orang lain yang membutuhkan, tidak harus menunggu dia kaya dulu. Orang bertakwa adalah orang yang bisa memberi bantuan pada orang lain, baik dalam keadaan kaya atau baik dalam kurang. Sebaliknya, orang yang bertakwa adalah orang yang tidak menerima, apa-apa yang bukan haknya. Jadi kalau kita sudah tidak berhak menerima zakat karena kita sudah tergolong sebagai orang yang mampu, maka jangan menerima zakat.

Kedua, wa al-kazhimîna ‘an al-ghaidh, artinya bisa mengendalikan amarahnya, tidak mengumbar kemarahan. Orang yang suka dan gampang marah adalah tanda sebagai kerapuhan jiwanya. Orang yang gampang marah, tanda bahwa ia belum bertakwa dengan sungguh-sungguh. Orang yang mudah marah juga, sebagai tanda bahwa si pemarah menganggap dirinya lebih hebat, dan menganggap bahwa dirinya paling patut dihormati.

Ketiga, yang terakhir, wal ‘afîna ‘an al-nâs, memiliki sifat pemaaf kepada orang lain yang bersalah. Sebagaimana kita semua pernah salah, atau orang lain berbuat salah kepada kita. Orang yang muttaqin itu bisa melupakan dan memaafkan kesalahan orang lain, dia biasa memaafkan. “Let gone be gone”, yang lalu sudah berlalu, mudah memaafkan, itulah sikap orang bertakwa

Kemudian ditutup dengan kalimat wallahu yuhibbul mushinîn, Allah menyukai orang-orang yang ihsan. Yang terus menenrus memperbaiki diri, yang menunjukkan hal-hal terbaik. Jadi karakter-karakter unggul dari orang bertakwa adalah: Mampu memberi barang-barang yang dicintainya kepada yang lebih membutuhkan, bila ada orang lain bersalah maka bisa mengendalikan amarah, dan bila ada orang lain bersalah sama kita, kita mudah memafkannya, dan terus-menerus memperbaiki diri, sungguh indah sekali orang bertakwa itu.

Demikianlah, sifat-sifat yang merupakan jati diri dari orang yang berpuasa. Dan dalam ibadah puasa, itu lengkap latihannya, ketika orang puasa, ketika orang lapar maka biasanya mudah marah dan sensitif. Nah ini kita dilatih untuk bisa bertakwa. Maka disebutnya la’allakum tattaqûn, artinya proses untuk bisa bertakwa. Semoga puasa kita mendapatkan ridha Allah dan dapat jadi orang yang bertakwa. (Ali Mursyid)
_______
Ini disampaikan pada kultum jamaah zhuhur di IIQ Jakarta, 17 Juli 2014

Sumber: www.iiq.ac.id

 

voice of iiq

KOLOM PENGASUH