PESANTREN IIQ

- INSTITUT - ILMU - QUR'AN - JAKARTA -

ARTIKEL IIQ

Sambutan dan Orasi Ilmiah Menag RI di IIQ Jakarta

SAMBUTAN DAN ORASI ILMIAH MENTERI AGAMA RI

DALAM ACARA WISUDA S-1 XVII 7 S-2 X

DAN PERESMIAN PROGRAM DOKTOR (S-3)

ILMU AL-QUR`AN-TAFSIR

INSTITUT ILMU AL-QU`AN (IIQ) JAKARTA

CINANGKA, 27 AGUSTUS 2016

 

 

Assalâmu’alaikum wr. wb.

Yth. Rektor IIQ Jakarta dan jajarannya;

Yth. Ketua Umum Yayasan Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta beserta jajarannya;

Yth. Gubernur DKI Jakarta, atau yang mewakili;

Yth. Gubernur Provinsi Banten, atau yang mewakili;

Yth. Walikota Tangerang Selatan, atau yang mewakili;

Wisudawan-wisudawati, para undangan dan hadirin sekalian yang berbahagia.

 

Dalam kesempetaan yang berbahagia ini, perkenankan saya menyampaikan sambutan dan orasi ilmiah sebagai bagian dari ekspresi rasa syukur dan cinta saya yang agung kepada Al-Qur`an, para pengkaji Al-Qur`an dan para pegiat Al-Qur`an, khususnya keluarga besar Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta.

Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya dapa hadir pada forum yang mulia ini; forum wisuda sarjana IIQ Jakarta. Bahagia, karena hari ini, saya dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebuah komunitas perempuan penghafal Al-Qur`an yang berhasil menamatkan program perkuliahan, baik tingkat sarjana maupun pascasarjana.

Bagi saya, sungguh wisudawan/wati yang dilantik hari ini ibarat mutiara-mutiara di samudera lautan. Saya katakana mutiara, sebab di tengah arus modernitas dengan segala macam efek dan eksesnya yang begitu dahsyat, masih ada sekelompok perempuan yang mau concern menghafal dan mendalami ilmu-ilmu Al-Qur`an hingga lulus pendidikan sarjana, bahkan pascasarjana.

 

 

Hadirin yang berbahagia

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa perempuan adalah kunci utama dalam membangun kehidupan dan peradaban. Bisa kita bayangkan jika dunia ini sepi dari peranan perempuan, ia akan terasa hampa, penuh nestapa dan tentu saja tak aka nada dimensi estetiknya.

Karena itu, benar kata orang bijak bahwa, Inna Wara’a Rajulin ‘Azhîmin Imra’ah (sesungguhnya dibalik kesuksesan seorang lelaki, ada peran perempuan di belakangnya). Jika kita lihat sejarah, keberhasilan baginda Rasulullah saw. dalam berdakwah tidak terlepas dari dukungan seorang wanita agung, ummul mu’minin, Sayyidah Khadijah al-Kubra. Dibalik kegagahan dan kesuksesan Bapak Proklamator, Bung Karno, ada sosok Ibu Fatmawati. Dengan demikian dapat dikatakan, salah satu kunci utama jatuh bangunnya seseorang terletak pada kaum perempuan.

Karena itu, tidak berlebihan kiranya jika baginda Muhammad saw. selalu mewanti-wanti umatnya agar berbuat baik kepada kaum hawa seraya bersabda:

استوصوا بالنساء خيرا (رواه البخارى و مسلم عن أبي هريرة)

“Berpesan-pesan baiklah kamu terhadap kaum wanita….” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini menjelaskan betapa tinggi perhatian baginda Rasulullah saw. kepada kaum perempuan. Beliau memberi wejangan, hendaknya kitasemua—umatnya—saling berwasiat untuk memperhatikan dan menunaikan hak-hak kaum perempuan. Yang dimaksud perempuan di sini adalah semua wanita dengan segala macam posisi dan statusnya, ia bisa jadi ibu, istri, saudara, anak, teman dan bahkan kenalan kita. Mereka semua harus mendapatkan perhatian khusus. Sebab mereka adalah calon ibu bagi generasi bangsa. Jika dipersiapkan dengan baik, maka akan melahirkan generasi yang baik dan begitu pula sebaliknya, sebagaimana ungkapan salah seorang penyair berkebangsaan Mesir, yang dikenal dengan julukan Syâirun-Nîl, Hafizh Ibrahim (w. 1932 M):

الأمّ مدرسة إذا أعددتها أعددت شعبا طيب الأعراق

“Seorang ibu bak sebuah sekolah. Jika engkau persiapkan dia dengan baik, maka sungguh engkau telah mempersiapkan generasi yang unggul.”

 

Salah satu bentuk perhatian itu adalah dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menuntut ilmu sampai ke jenjang yang tertinggi. Dan hari ini, kita patut bersyukur dan bangga, karena di hadapan kita semua, ada sekelompok kaum perempuan sarjana dan pascasarjana. Keberhasilan ini, selain karena rahmat Allah swt., juga tentu karena kesabaran orang tua dan dedikasi para guru dan dosen dalam mendidik, membimbing, dan mengarahkan mereka hingga mampu merampungkan seluruh proses akademiknya.

Maka tidak ada kata lain bagi para wisudawan/wisudawati khususnya, dan kita semua yang hadir pada umumnya, melainkan memanjatkan rasa syukur kepada Allah swt. Dan berterima kasih kepada orangtua serta para dosen, teriring doa; jazâkumullah khair al-jazâ’.

Hadirin yang berbahagia

Sebagai bentuk rasa syukur itu, Kementerian Agama RI, akan selalu berkomiten untuk mendukung program-program yang dicanangkan Institut Ilmu Al-Qur`an. Karena tanpa usaha keras lembaga semacam IIQ, maka pemberdayaan perempuan berbasis AL-Qur`an yang riil akan sangat sulit kita temui di negeri ini. Saya bisa katakan, sesungguhnya Negara sangat berhutang kepada IIQ dalam konteks kaderisasi dan pemeliharaan Al-Qur`an, sekaligus pendidikan bagi kaum perempuan.

Mengelola dan mempertahankan eksistensi selama 39 tahun dalam pemberdayaan perempuan dan kajian Al-Qur`an tentu tidaklah mudah. Terlebih di tengah arus globalisasi dan kontestasi budaya kota metropolitan yang pragmatis dan berbasis logikauntung-rugi. Maka atas nama pemerintah, kami setinggi-tingginya kepada Yayasan IIQ Jakarta atas kontribusi yang diberikan kepada bangsa dan Negara selama ini.

Dalam kaitan itu, tahun ini in sha Allah Kementerian Agama, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, akan memberikan beasiswa S2 sebanyak 1 kelas, khusus untuk kaderisasi ulama perempuan. Sebagaimana kerjasama pada tahun-tahun yang lalu, maka kelas beasiswa tahun ini, saya harapkan menggunakan format kelas internasional dengan menggunakan pengantar bahasa Arab; peserta diperuntukkan khusus perempuan (sebagai respon terhadap program pengarusutamaan gender dan menjawab kelangkaan ulama perempuan); bidang kajian yang didalami adalah Ilmu Qiraat Al-Qur`an. Dan setelah lulus nanti, saya harapkan mereka menjadi feeder bagi program 5000 Doktor ke Universitas di Timur Tengah.

Selain itu, hari ini juga in sha Allah akan saya resmikan Program Doktor (S3) Prodi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir (IAT) dengan distingsi dan excellency bidang kajian Ilmu Qiraat, Ilmu Rasm, dan Mushaf Al-Qur`an. Mudah-mudahan program-program tersebut merupakan bentuk kongkrit dari apresiasi dan keberpihakan Negara, dalam hal ini Kementerian Agama, terhadap studi Al-Qur`an dan pemberdayaan kaum perempuan.

 

Hadirin dan wisudawan yang berbahagia

Perlu saya sampaikan juga bahwa Kementerian Agama memiliki serangkaian program penguatan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Mulai dari program peningkatan kualitas mutu dosen dan tenaga kependidikan melalui Program 5000 Doktor, Academic Recharging for Islamic Higher Education (ARFI) untuk percepatan studi S3 bagi dosen PTKI, Postdoctoral Fellowship for Islamic Higher Education (POSFI) untuk penguatan kualitas dan jejaring akademik bagi dosen PTKI bergelar doctor, kegiatan kemahasiswaan, pemberian beasiswa tahfizh Al-Qur`an, perbaikan infrastruktur, hingga pengadaan bantuan sarana dan prasarana. Pada konteks ini, saya berharap agar IIQ ikut mendukung program-program tersebut dengan cara berpartisipasi aktif di dalamnya.

Yang tak kalah penting adalah, IIQ juga harus terus melakukan peningkatan mutu internal, baik dalam bidang pengelolaan manajemen administrasi, mutu akademik, pelayanan public, maupun dalam bidang-bidang Tridharma Perguruan Tinggi yang lain. Standar Nasional Pendidikan harus terus diikuti agar mutu IIQ yang sudah baik ini, semakin baik di masa-masa mendatang. Di saat yang sama, ciri khas kajian ke-Al-Qur`an-an meliputi tahfizh, tafsir, qira`at dan tilawah yang berbasis bada local wisdom yang selama ini menjadi concern IIQ, juga tidak dilupakan hanya karena semata-mata mengejar standarisasi yang bersifat positivistik-statistik. Karena itu, kombinasi kedua system tersebut menjadi sebuah keniscayaan yang tak dapat ditawar. Kekompakan team work harus terus dijaga dan dipersolid, suasana akademik juga harus terus dibuat senyaman mungkin agar proses kaderisasi dan produksi ulama-ulama Al-Qur`an dapat terwujud dengan baik, demi kemaslahatan umat, bangsa, dan Negara.

Hadirin dan wisudawan yang berbahagia

Selanjutnya dalam kesempatan yang berbahagia ini, perkenankan saya menyampaiakan orasi terkait dengan tema “Membumikan Kandungan Al-Qur`an di Bumi Nusantara”.

Secara umum, pendidikan Al-Qur`an di negeri ini sudah dimulai sejak Islam masuk ke bumi Nusantara. Pada masa-masa awal, pendidikan Al-Qur`an dilakukan dengan cara dan metode yang sangat sederhana, hanya terbatas pada penguasaan bacaan, itu pun dengan sarana dan fasilitas apa adanya. Kendati pun demikian, para ulama penyebar Islam di Nusantara ini berhasil membumikan Al-Qur`an dengan baik dan tepat sasaran.

Kemudian pengajaran dan pembelajaran Al-Qur`an di era modern terus mengalami geliat ke arah positif. Hal itu ditandai dengan munculnya para ulama dan karya monumental di bidang tersebu. Dalam bidang tafsir misalnya, muncul tokoh-tokoh terkemuka seperti Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (HAMKA) dengan al-Azhar-nya, M. Hasbi as-Shiddiqy dengan al-Bayan-nya, KH. Bisri Musthafa dengan al-Ibriz-nya, dan tak lupa guru kita, Prof. Dr. M. Quraish Shihab dengan al-Misbah-nya.

Di bidang ilmu nagham/tilawah (seni baca) Al-Qur`an muncul tokoh seperti KH. Tubagus Saleh Ma’mun, KH. Bashori Alwi, Muammar ZA., dan tak lupa Ibu Hj. Maria Ulfa, wari’ah legendaris yang lahir dan dibesarkan dari Rahim IIQ Jakarta.

Di bidang Ilmu Qira`at Al-Qur`an muncul tokoh-tokoh monumental seperti KH. Arwani Kudus, KH. Abdullah Salam, KH. Nawawi Bantul Yogyakarta, KH. Amrun Rawasari Semarang, Nyai Hj. Nur Ismah, dan tak lupa Dr. KH. Ahmad Fahoni dan Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA., yang tidak lain adalah Rektor IIQ Jakarta periode 2004-2014.

Nama-naam tersebut adalah beberapa contoh ulama Al-Qur`an hasil tempaan lembaga pendidikan masa lalu yang mampu menorehkan prestasi yang gemilang. Tantangan ke depan adalah bagaimana lembaga pendidikan modern—dengan berbagai fasilitasnya yang serba mewah—mampu melahirkan ulama Al-Qur`an yang sekaligus juga menguasai teknologi dan keilmuan modern, sehingga mereka dapat mengawal peradaban dunia dengan nilai-nilai dan spirit Al-Qur`an.

Hadirin yang berbahagia

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana cara membumikan Al-Qur`an di Nusantara? Setidaknya ada lima metode yang dapat dilakukan yaitu:

Pertama, tilawah. Tilawah berarti membaca. Yang dimaksud membaca di sini adalah membaca dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah tajwid dan tahsin yanga da. Dalam konteks ini, metode baca Al-Qur`an dapat membantu proses akselerasi dan akurasi bacaan Al-Qur`an. Di Indonesia, ada beberapa metode baca Al-Qur`an yang kerap digunakan, misalnya metode Baghdadi, metode Qiraati, metode Iqra`, metode an-Nahdlah, metode Ummi, dan sejenisnya. Pembacaan yang benar sesuai kaidah, penting dilakukan agar seseorang tidak terjerembab pada kesalahan pengucapan yang berakibat pada kesalahan makna. Dalam konteks ini Allah swt. Berfirman:

 

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا (٤)

“Dan bacalah Al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzammil [73]: 4)

Kedua, tahfizh (menghafal). Langkah kedua ini sejatinya dapat dilakukan secara bersamaan dengan langkah pertama. Sebab pada dasarnya tahfizh dan tartil tidak dapa dilakukan secara terpisah tapi harus bersamaan. Dalam menghafal dibutuhkan niat yang tulus, konsistensi, dan zuhud. Dengan demikian, dalam proses menghafal, seseorang secara tidak langsung telah belajar ilmu ikhlas, sabar, istiqamah dan zuhud. Karena ini para penghafal Al-Qur`an memiliki posisioning yang tinggi di hadapan Allah swt., sebagaimana sabda Nabi saw.:

 

إنّ لله أهلين من الناس. قالوا: يا رسول الله, من هم؟ قال: هم أهل القرأن, أهل الله وخاصّته. (رواه ابن ماجه و أحمد)

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka ya Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘Para ahli Al-Qur`an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.’” (HR. Ibn Majah dan Ahmad)

Ketiga, tafsir, yakni memahami isi kandungan Al-Qur`an. Kegiatan menafsirkan/memahami isi kandungan Al-Qur`an memang dibutuhkan keahlian khusus. Beberapa ilmu teknis seperi bahasa Arab, hadis, fiqh, ushul fiqh, balaghah, dan sejarah juga harus dikuasai secara mendalam oleh mereka yang hendak menjadi mufasir Al-Qur`an.

Di bumi Nusantara, kegiatan menafsirkan Al-Qur`an sejatinya telah dikenalkan sejak awal, kendati dalam bentuknya yang sangat sederhana. Seperti melalui konsep mo limo (tidak mau melakukan 5 perkara) yaitu mo mabok (tidak mabuk), mo madon (tidak berzina), mo maling (tidak mencuri), mo main (tidak berjudi), mo madat (tidak mau narkoba) yang dikenalkan Sunan Ampel. Konsep tersebut sejatinya adalah penafsiran aplikatif ala Sunan Ampel yang disesuaikan dengan nalar masyarakat dan kebutuhan pada zamannya.

Keempat, tadabbur (merenungkan isi kandungan Al-Qur`an). Istilah tadabbur adalah proses perenungan yang dilakukan dengan cara mengaitkan ayat satu dengan ayat lain dalam Al-Qur`an, atau antara ayat dengan perilaku yang dilakukan seseorang. Dengan cara ini maka seseorang akan mendapatkan petunjuk dari berbagai isyarat yang ada dalam Al-Qur`an. Hal ini sebagaimana firman Allah swt.:

 

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (٢٤)

“Maka apakah mereka tidak men-tadabburi Al-Qur`an atauah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad [47]: 24)

Kelima, tafakkur. Tafakkur adalah merenungkan isi kandungan Al-Qur`an dengan cara mengaitkannya dengan ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan Allah yang ada di alam raya ini. Alam raya dengan segala macam isisnya merupakan objek kajian yang luar biasa luasnya. Banyak rahasia dan misteri di dalamnya. Jika misteri tersebut terkuak, niscaya manusia akan mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang hakekat hidup dan kehidupan ini. Sementara Al-Qur`an yang berisi sekitar 6000 lebih ayat adlaah semacam keyword yang menunjukkan kepada pintu-pintu samudra kekuasaan Tuhan yang Maha Dahsyat dan luas. Karena itu, dengan mengaji ayat-ayat Al-Qur`an dan mengkaji ayat-ayat kealaman (kauniyah), seseorang akan mendapatkan samudra ilmu pengetahuan Tuhan yang Maha Luas.

Inilah beberapa poin penting yang dapat dilakukan dalam rangka untuk membumikan Al-Qur`an di Nusantara. Saya yakin, hal-hal tersebut sudah diketahui oleh lembaga-lembaga yang cocern pada pendidikan Al-Qur`an, termasuk IIQ. Hanya saja, poin ini penting saya tekankan kembali karena terkadang secara teoritis hal itu mudah diucapkan, tapi secara aplikatif perlu terus ditradisikan. Oleh karena itu, saya berharap IIQ terus mampu menerapkan hal-hal tersebut agar cita-cita agung untuk membumikan Al-Qur`an di bumi Nusantara ini benar-benar terwujud. Sehingga negeri ini betul-betul menjadi bangsa dan Negara yang makmur lahir batin dengan cahaya dan bimbingan Al-Qur`an. Amîn.

Wisudawan, wisudawati, Bpaka/Ibu hadirin yang berbahagia

Terakhir, atas nama pribadi maupun selaku Menteri Agama, saya sampaikan selamat kepada Ibu Ketua Umum Yayasan, Ibunda Hj. Harwini Joesoef dan Ibu Rektor, Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo beserta segenap jajaran pimpinan IIQ yang berhasil mewisuda mahasiswa/mahasiswinya tahun ini. Selamat kepada orang tua yang telah mengantarkan putra-putrinya untuk menyelesaikan pendidikannya di IIQ. Selamat kepada pada wisduawan dan wisudawati. Dengan selesainya studi ini, diharapkan saudara-saudara semua menjadi kader-kader unggul yang siap berdedikasi dan berjuang demi kejayaan agama dan bangsa yang kita cintai.

Akhirnya, dengan mengucapkan:

بسم الله الرحمن الرحيم

Program Doktor Prodi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta saya nyatakan dibuka dan diresmikan.

Semoga Allah swt. Senantiasa meridhai dan memberikan kekuatan kepada kita semua dalam upaya membangun umat, bangsa dan Negara yang berkemajuan, adil, makmur, dan sejahtera dalam rahmat dan keberkahan Allah swt.

Sekian dan terima kasih.

Wallahul muwafiq ilâ aqwamith tharîq

Wassalamualaikum wr. wb.

 

Menteri Agama RI

Lukman Hakim Saifuddin

 (HF)

 

voice of iiq

KOLOM PENGASUH