PESANTREN IIQ

- INSTITUT - ILMU - QUR'AN - JAKARTA -

Kemuliaan Ilmu dan Penuntutnya

Oleh Dr Ahsin Sakho Muhammad
Rektor IIQ Jakarta

“Bacalah dengan [menyebut] nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahapemurah. Yang mengajar [manusia] dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS al-`Alaq: 1-5)

Pada saat al-Qur’an turun pertama kali di Mekkah, kondisi bangsa Arab saat itu betul-betul dalam keadaan yang memprihatinkan baik dari segi akidah, hukum, akhlak, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Jika dilihat dari letak geografis, kota Mekkah diapit oleh segitiga peradaban. Di selatan ada peradaban kaum Saba’ di Yaman, di tenggara ada peradaban Romawi dan Parsi, dan peradaban Mesir di barat daya. Kota Mekkah nyaris tidak tersentuh oleh ketiga peradaban tersebut. Satu-satunya kegiatan yang menyebabkan mereka dikenal pihak luar adalah karena perdagangan. Masalah ini disebut dalam surah Quraisy.

Dalam situasi jahiliyah seperti itulah al-Qur’an diturunkan oleh Allah. Hal ini tampaknya disengaja oleh Allah agar masyarakat dunia tahu bahwa al-Qur’an dan ajarannya sukses mengangkat derajat masyarakat, dari masyarakat yang sangat terbelakang menjadi masyarakat yang maju dan disegani. Kaum Muslimin selama kurang lebih delapan abad lamanya mampu bertengger di puncak prestasi masyarakat dunia, mampu mewarisi dan mengembangkan peradaban Yunani, Romawi, dan Parsi.

Namun semuanya itu tidak bisa muncul dan terjadi seketika, tapi melalui proses yang terencana, bijaksana, mengikuti skala prioritas, dan seterusnya. Lalu, bagaimana prioritas al-Qur’an dalam membangun masyarakat Arab saat itu? Berikut ini penjelasannya.

Menggali aspek-aspek pengetahuan pada ayat al-Qur’an

Ada yang harus menjadi fokus perhatian kita bersama, yaitu lima ayat pertama dari surah al-`Alaq yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.  Lima ayat tersebut mengandung hal-hal yang sangat berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Jika kita teliti lebih jauh, maka ada tiga titik fokus yang berkaitan dengan kelima ayat tersebut:

Pertama, Obyek. Obyek pada ayat-ayat tersebut terkait dengan ilmu pengetahuan.  Ada beberapa kosakata yang digunakan untuk menunjang, yaitu kata ‘iqra (bacalah). Kata ini diulang kembali pada ayat ketiga.

Al-Qur’an tidak memberikan informasi tentang apa yang harus dibaca. Hal ini sengaja dilakukan karena titik fokus ayat ini adalah aktivitas membacanya. Inilah pesan universal yang ingin ditonjolkan oleh al-Qur’an, sehingga ayat ini bisa berlaku sepanjang masa.

Membuang maf’ul atau obyek dalam ilmu Balaghah mempunyai beberapa alasan, salah satunya adalah untukta’mim atau memberikan kesan yang umum, tidak terikat dengan satu obyek saja, sebagaimana disebut dalamnazham al-Jauhar al-Maknun karya al-Akhdlari (bait 114).

Dengan demikian, obyek yang dituju bisa berupa ayat-ayat matluwwah (yang dibaca), yaitu berupa ayat-ayat al-Qur’an. Tujuannya, agar dimengerti dan isinya direnungi, kemudian diamalkan sehingga menjadi hidayah bagi masyarakat. Bisa juga berupa ayat-ayat kauniyyah atau alam semesta, karena alam semesta adalah menjadi tanda akan keberadaan dan kebesaran Zat yang menciptakannya. Manusia perlu membaca ilmu Allah yang melekat pada benda-benda tersebut melalui penelitian dan pengamatan yang terus menerus, sehingga mendapatkan hasil yang berguna bagi masyarakat. Namun bisa juga berupa segala sesuatu yang bisa dibaca, yaitu ilmu pengetahuan yang ditulis oleh manusia.

Jika obyek atau maf’ul itu disebut secara langsung, berarti yang dimaksud hanya terbatas pada yang disebut saja. Sementara jika digeneralisir maka obyeknya bisa berupa apa saja yang bisa dibaca dan diteliti.

Kosa kata berikutnya adalah `Allama (mengajarkan). Kata ini diulangi pada ayat berikutnya. Bedanya, kata`allama yang pertama terkait dengan alat untuk mencari ilmu yaitu pena, sedang kata `allama yang kedua terkait dengan dua hal, yaitu obyek ilmu pengetahuan tersebut (manusia) dan sesuatu yang  belum diketahui (ma lam ya`lam).

Kosa kata terakhir adalah al-Qalam (pena), yaitu alat untuk mencari ilmu.

Kedua, Subyek. Subjek yang dituju oleh perintah membaca adalah manusia (al-Insan), yang disebut pada ayat kelima. Penggunaan kata ini sangat tepat, karena manusia adalah makhluk yang berfikir dan berbudaya. Ilmu pengetahuan adalah hasil budaya manusia, karena manusia mempunyai otak yang bisa menyimpan informasi dan mengolahnya sehingga menjadi produk budaya.

Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa semua bidang ilmu baik ilmu agama Islam maupun ilmu umum sangat dianjurkan al-Qur’an agar dipelajari secara bersama-sama. Ilmu umum untuk kesejahteraan umat manusia dan menjadikan hidup menjadi lebih mudah. Se­mentara ilmu agama untuk memberikan landasan spiritual dan ideal dan taujih atau orientasi tentang ilmu pengetahuan yang sedang dipelajari.

Ayat di atas memberi pesan yang cukup dalam agar semua manusia yang hidup di bumi ini menjadi manusia yang terpelajar, selalu ingin meningkatkan kapasitas ke­ilmuannya. Allah tidak menginginkan manusia menjadi bodoh.

Nabi Muhammad SAW memang ummy (tidak bisa baca tulis), namun hal itu bagi beliau merupakan keistimewaan. Beliau sendiri tidak menginginkan umatnya menjadi ummy.

Ketiga, Sumber perintah. Dalam ayat pertama disebut­kan dengan jelas bahwa yang memerintahkan untuk membaca adalah Allah, yang menggunakan kata Rabb. Peng­­gunaan kata Rabb sangat tepat, karena berbagai alasan. Di antaranya, dengan kata ini, Allah ingin meng­gambarkan bahwa perintah ini berasal dari Zat yang memelihara dan mendidik manusia, memilki manusia, memperbaiki manusia, dan lain sebagainya.

Alasan lainnya, Allah menghendaki semua aktivitas akal manusia dalam mencari ilmu pengetahuan, yang efeknya bisa melahirkan produk budaya, hendaklah selalu diatasnamakan Allah (bismi Rabbika). Dengan begitu, hasil produk budaya itu  digunakan untuk hal-hal yang positif dan kebaikan masyarakat luas.

Orang yang tidak mau mengatasnamakan Tuhan (Allah) dalam kegiatannya mencari ilmu mungkin saja berhasil dalam batas tertentu. Karena, hal ini terkait dengan hukum kemanusiaan, yaitu siapa bersungguh-sungguh dia akan mendapatkan (man jadda wajada). Dalam hal ini tidak dibedakan antara Muslim dan non Muslim.

Pada dasarnya Allah memberikan penghargaan kepada mereka yang mau bekerja. Hanya saja, orang yang se­macam ini jika mendapatkan satu hasil, tidak akan membawa berkah di dunia sampai akhirat. Mungkin saja dia mendapatkan keberkahan tapi hanya di dunia, tapi tidak sampai menjadi amal saleh di akhirat. Dia tidak mau menggandeng nama Allah disaat mau memulai pekerjaan. Dalam sebuah hadis disebutkan,

“Setiap pekerjaan yang mempunyai nilai, jika tidak dimuali dengan membaca basmalah maka pekerjaan ter­sebut tidak akan membawa keberkahan.” (HR Ibnu Hibban dan dinilai hasan oleh Ibnu Shalah)

Dengan penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa manusia diminta oleh Allah untuk membaca apa yang bisa dibaca. Dengan catatan bahwa pekerjaannya tersebut diniatkan atas nama Allah, Rabb Sang Pencipta.

Agar bisa memberikan manfaat di dunia sampai ke akhirat nanti, manusia juga harus mengerti tentang diri­nya sendiri, bahwa pada awalnya ia tidaklah berarti apa-apa, dan tidak tahu apa-apa (ma lam ya’lam). Manusia harus mengakui bahwa semenjak dalam kandungan dia sangat tergantung kepada makanan dari rahim ibunya melalui pori-pori atau serat-serat yang sangat halus. Pada saat terlahir, manusia juga masih terus bergantung kepada manusia lain dalam menjalankan misi kehidupannya. Pesan yang dikandung adalah bahwa manusia tidak boleh egois, harus saling tolong menolong dan bekerja sama.

Disamping kelima ayat diatas, kita temukan banyak ayat yang berbicara tentang pentingnya ilmu pengetahuan, antara lain:

Pertama, Malaikat memberi hormat kepada Nabi Adam karena suruhan Allah. Salah satu alasannya, Nabi Adam mampu menyebutkan nama-nama benda, sementara Malaikat tak mampu. (al-Baqarah: 30)

Kedua, Allah menyandingkan Ulul ‘Ilmi atau para ulama dengan Allah dan para Malaikat dalam memberikan kesaksian atas ketauhidan Allah. (Aal `Imran: 18). Ini merupakan penghormatan yang sangat tinggi bagi orang yang berilmu.

Ketiga, Allah menyatakan bahwa tidak akan sama orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu. (az-Zumar: 9)

Keempat, Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu. (al-Mujadilah: 11)

Dampak ayat pengetahuan terhadap peradaban

Dari ayat-ayat di atas dan hadis-hadis Nabi SAW yang menghimbau umatnya untuk belajar, maka secara perlahan tapi pasti umat Islam bangkit menjadi umat yang ‘gila’ ilmu. Al-Qur’an, sebagai kitab yang harus dibaca, pada perkembangannya memunculkan ilmu tajwid dan ilmu qira’at. Lalu ilmu nahwu, agar cara membacanya tidak salah. Al-Qur’an juga, selain dibaca, harus dipahami. Untuk memahami seluruh isi kandungan al-Qur’an, diperlukan banyak perangkat keilmuan, seperti  ilmu tafsir, dan lain sebaginya.

Dalam perkembangan selanjutnya umat Islam mampu melahap banyak bidang keilmuan. Khalid al-Umawy, se­orang saudagar kaya dari dinasti Umayyah mengimpor buku-buku Yunani dan menugaskan para penerjemah andal untuk menerjemahkannya. Maka, umat Islam pun menjadi masyarakat yang maju dan disegani karena ilmu pengetahuan yang dilandasi moral keagamaan.

Tugas kita sekarang adalah memberikan perhatian yang serius kepada anak didik kita agar supaya mereka tekun belajar dan mendalami berbagai cabang keilmuan, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Harapannya, agar peradaban masa yang akan datang memiliki orientasi yang benar yaitu mensejahterakan umat manusia yang dilandasi nilai-nilai spiritual, sesuai dengan firman Allah: “Baldatun thayyibatun warabbun ghafur,” negeri yang sejahtera dan mendapat ampunan dari Allah. Amin

Sumber: http://www.majalahgontor.net/index.php?option=com_content&view=article&id=613:kemuliaan-ilmu-dan-penuntutnya&catid=52:tafsir&Itemid=107

 

voice of iiq

KOLOM PENGASUH