PESANTREN IIQ

- INSTITUT - ILMU - QUR'AN - JAKARTA -

Suara Perempuan Bukan Aurat

Dr. Ahsin Sakho Muhammad, MA.

Mengenai shautul mar’ah atau suara perempuan, termuat dalam al-Qur’an. Di antaranya ayat tentang pemuda dan pemudi. Pemudanya itu Nabi Musa AS, dan pemudinya adalah putri dari Madyan, dua orang putri dari Madyan. Putri dari Madyan itu menyapa dan berbicara dengan Nabi Musa,

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? Kedua wanita itu menjawab: Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. (Al Qashash : 23)

Dan disambung ayat selanjutnya :

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syuaib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syuaib berkata: Janganlah kamu takut. kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu. (Al-Qashash: 25)

Jadi pembicaraan perempuan dan laki-laki ada di dalam al-Qur’an al-Karim. Kalau kita lihat pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, banyak perempuan berbicara di hadapan Nabi, banyak juga perempuan-perempuan yang menjadi periwayat hadizt Nabi. Sudah tentu pada waktu meriwayatkan hadits Nabi, perempuan-perempuan itu berbicara di hadapan laki-laki dan perempuan.

Sampai di sini, ulama berbeda pandangan, apakah shautul mar’ah atau suara perempuan itu aurat atau bukan. Mereka yang berpendapat bahwa shautul mar’ah itu aurat mengemukakan beberapa argumentasi. Pertama, bukankah perempuan itu tidak diperbolehkan menjadi muadzinah, tukang adzan perempuan, itu tidak diperbolehkan dalam Islam. Perempuan juga menurut para fuqaha (ahli fiqh) itu tidak diperbolehkan menjadi imam. Juga pada saat imam lupa atau salah, maka perempuan tidak mengingatkannya dengan bersuara, tidak dengan bertasbih sebagaimana laki-laki, tetapi dengan menepuk tangan saja. Jadi menurut argument yang demikian, menurut mereka ini, suara perempuan atau shautul mar’ah itu tidak perlu ditampilkan

Sedangkan para ulama yang berpandangan bahwa shautul mar’ah atau suara perempuan itu bukan aurat, berargumen diantaranya: Bahwa bukankah banyak sahabat-sahabat perempuan berbicara dengan Nabi Muhammad SAW. Bukankah pada waktu membaca shyahadat shabat perempuan itu bersuara.

Mereka yang mengatakan bahwa shautlu mar’ah atau suara perempuan itu aurat, mengatakan bahwa wa laa yudhribna bi arjulihinna liyu’lama maa yukhfiina min zinatihinn, janganlah perempuan itu meggerak-gerakkan kakinya yang ada kerincingannya itu. Walaupun Cuma kerincingan, untuk lelaki pada masa itu, membikin yang tadinya ngantuk menjadi tidak ngantuk. Jika suara kerincingan saja tidak boleh, maka tentu apalagi suara perempuan tidak boleh. Ini bagi mereka yang mengatakan bahwa shautul mar’ah itu aurat.

Juga dikatakan bahwa: “Janganlah melemah lembutkan suara perempuan, sehingga tidak mengundang hati laki-laki yang tidak bagus…”. Dari sinilah perbedaan dan perdebatan para ulama berlangsung.

Menurut pandangan para ulama madzhab Syafi’I, atau yang dikenal dengan Syafi’iyyah, dikatakan bahwa shautul mar’ah laîsa bi’auratin (suara perempuan itu bukan aurat). Yang lebih lengkap lagi dikatakan, shautul mar’ah laisa bi auratin I amkana fitnah (suara perempuan itu bukan aurat selama tidak mengundang fitnah). Karena itu lalu, mungkin karena terlalu hati-hati, perempuan jika berbicara di hadapan laki-laki, maka suaranya diperbesar dan diperberat seperti suara laki-laki.

Bagaimana dengan para ulama di Indonesia. Sudah kita ketahui bahwa kebanyakan ulama di Indoensia adalah bermadzhab madzhab Syafi’i. Ulama Syafi’iyah banyak yang mengatakan bahwa shautul mar’ah laisa bi ‘auratin (suara perempuan bukanlah aurat). Oleh karena itu di Indonesia, pandangannya moderat. Di mana seni suara, yang melibatkan suara perempuan terus berkembang. Termasuk di dalamnya seni tilawah al-Qur’an.

Dalam seni tilawah atau nagham al-Qur’an sendiri. Ada yang disebut dengan melodi nada Sikkah, Hijaz, Rost, Bayati, Nahawan dan lain sebagainya. Itu bukan dari asli kultur budaya Arab, atau Indonesia. tetapi dari budaya kaum Persia. Wallahu a’lam bi al-sahawab. (Ali Mursyid)

Sumber: www.iiq.ac.id

 

voice of iiq

KOLOM PENGASUH