PESANTREN IIQ

- INSTITUT - ILMU - QUR'AN - JAKARTA -

SEKILAS TENTANG SEJARAH ILMU QIRA’AT

Oleh : Ahsin Sakho Muhammad

Latar belakang sejarah.

Dalam kitab-kitab klasik disebutkan bahwa bangsa arab adalah bangsa nomaden yaitu bangsa yang senang berpindah dari satu tempat ketempat yang Isinnya. Mereka tidak pernah mendiami satu daerah terus menerus. Oleh karena itu bangsa arab berserakan di seluruh pelosok di semenanjung Arabia, dari daerah Yaman disebelah selatan, disepanjang Kufah dan Basrah di Irak, sampai ke Syam di sebelah utara dan ditepi tepi pantai diselat farisi ''. disebelah timur dan disepanjang pantai antara Mekkah dan Madinah di sebelah barat. Mereka terdiri dari kabilah- kabilah yang bermacam-macam mereka telah mendiami kawasan disekitar semenanjung Arab, selama ratusan tahun, kalau tidak dikatakan ribuan tahun. Bahasa mereka adalah satu yaitu bahasa arab yang merupakan bahasa kesatuan mereka, yang berasal dari bahasa Arsmi kuno.

Walaupun bahasa mereka pada dasarnya adalah satu, tapi antara satu kabilah dengan kabilah yang lain terdapat banyak perbedaan, baik dari segi cara pengucapan atau juga dari segi perbendaharaan bahasa. Maka banyak dijumpai bahwa penyebutan satu  benda oleh satu kabilah akan berlainan dengan kabilah yang lainnya. Seperti kata " Mudyah" dan "Sikkin", keduanya berarti sama yaitu pisau, tapi satu kabilah hanya memakai satu diantara keduanya. Bahasa, adalah alat komunikasi manusia yang bisa berkembang sejalan dengan budaya manusia itu sendiri. Begitu juga dengan bahasa Arab.

Read more: SEKILAS TENTANG SEJARAH ILMU QIRA’AT

PERKEMBANGAN MUSABAQAH DI INDONESIA

DR. Ahsin Sakho Muhammad

Pendahuluan

Sebelum kita membahas tentang judul ini terlebih dahulu kita bicarakan tentang pandangan orang islam Indonesia terhadap Al Qur'an. Sehingga bisa dipahami kenapa Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) di Indonesia tampak demikian marak.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Al Qur'an adalah kitab suci umat Islam yang sangat dihormati dan disakralkan, Kecintaan terhadap kitab suci ini tidak dirgaukan lagi. Sehingga setiap acara-acara keagamaan tidak akan lepas dari Al Qur'an, misalnya dalam acara seremonial sepeti muludan, Rajabiyah, Halal Bi Halal, dan lain sebagainya selalu di dahuli dengan pembacaan Al Qur'an.

Jika ada orang yang meninggal maka dibacakanlah surah yasin, bahkan selama 7 malam berturut-turut, begitu juga setelah 40 hari, 100 hari dari wafatnya seorang mayit. Jika ada wanita hamil 4 bulan dibacakan bersama surah Yusuf atau Luqman atau surah Maryam, sebagai rasa tafa'ul (menginginkan kebaikan) dari surah tersebut. Begitu juga dengan acara sema'an yaitu seorang membaca Al Qur'an dari awal sampai akhir dengan bacaan bil-ghaib (tanpa melihat mushaf) sebelum satu acara tertentu semisal perkawinan dan lain sebagainya.

Hal ini terlepas dari persoalan apakah hal tersebut pekerjaan bid'ah atau bukan, yang penting dikemukakan disini adalah bahwa kegiatan membaca Al Qur'an dalam kegiatan yang berbau keagamaan merupakan sesuatu yang umum digunakan oleh sebagian besar kaum muslimin di Indonesia.

Read more: PERKEMBANGAN MUSABAQAH DI INDONESIA

 

voice of iiq

KOLOM PENGASUH