PESANTREN IIQ

- INSTITUT - ILMU - QUR'AN - JAKARTA -

Refleksi Pembaharuan dalam Pemikiran Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Oleh: Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA.

Rektor Institut Ilmu Al-Qur'an Jakarta.

Makalah ini disampaikan pada acara Seminar Tajdid Pemikiran Islam dengan Tema: “Pengekalan Alam Melayu Sebagai Rantai Ahlussunnah Wal Jama'ah,” yang diadakan oleh Yayasan Dakwah Malaysia Indonesia (YADMI), dari hari Kamis-Sabtu, 19-21 Februari 2009 di Hotel Pan Pasifific, KLIA, Malaysia.

Pendahuluan

Pembahasan tentang Ahlussunnah wal Jama'ah akan selalu tetap menarik karena pembahasan ini menyangkut  dinamika internal kaum muslimin di seluruh dunia terhadap isu isu global yang tengah melanda dunia saat ini. Jika pengikut Ahlussunnah wal Jama'ah merupakan bagian yang cukup besar dari penduduk dunia, maka sikap mereka terhadap isu isu sentral yang melanda dunia saat ini sangat ditunggu oleh banyak pihak, baik di dalam negeri negara negara islam itu sendiri maupun di luar negeri terutama dari negara barat. Sikap kaum muslimin dari kalangan sunni  terhadap isu isu global akan menjadi agenda dan catatan sendiri bagi pihak pihak yang berkompeten untuk menentukan sikap dalam menangani isu isu tersebut. Tulisan dibawah ini akan berusaha menjelaskan tentang Refleksi Pembaharuan Dalam Pemikiran Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Read more: Refleksi Pembaharuan dalam Pemikiran Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Sejarah Penulisan Alquran tidak perlu diberdebatkan

Oleh Ahsin Sakho Muhammad

Sejarah penulisan al-Quran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang rumit, dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik, dan rekayasa. Ustadz Ahsin Sakho Muhammad yang menjadi narasumber PSQ dalam Halaqah Tafsir di Ruang Serbaguna PSQ, Rabu (05/3) lalu, berpendapat bahwa hal itu tidak perlu diperdebatkan, karena sudah jelas. Penulisan al-Quran dilakukan pada masa Nabi Muhammad Saw, Abu Bakar, Usman bin Affan, dan Mushaf pasca-Usman.

Rektor IIQ Jakarta ini kemudian melanjutkan, di masa Nabi Muhammad SAW, setiap kali wahyu disampaikan, Nabi langsung memerintahkan sahabatnya untuk menghapalkannya, kemudian menuliskannya (arab gundul) di pelepah kurma, kulit binatang, tulang, batu, dan lain-lain. Al-Quran yang ditulis tadi mengandung al-ahruf as-sab’ah. Ayatnya masih belum berharakat, hurufnya tidak bertitik, tidak ada penomoran ayat, nama surat, tanda waqaf, sajdah, dan lain-lainnya. Selain itu, bentuk khat al-Quran juga masih mengikuti bentuk khat pra-Islam yaitu “khat kufi” yang selanjutnya menjadi “khat nabthi”, dan akhirnya bermuara pada khat bangsa smith (samiyah). Walau saat itu al-Quran masih tercerai berai, lanjutnya lagi, tapi urutannya sudah diketahui oleh para sahabat dan Nabi sendiri, terbukti Nabi sering membacanya dengan berurut.

Read more: Sejarah Penulisan Alquran tidak perlu diberdebatkan

 

voice of iiq

KOLOM PENGASUH