PESANTREN IIQ

- INSTITUT - ILMU - QUR'AN - JAKARTA -

Karakteristik Masyarakat Madani dalam Al-Qur’an

Oleh: Dr. Ahsin Sakho Muhammad, MA.

Dan orang-orang  yang  beriman,  laki-laki  dan  perempuan,  sebagian  mereka menjadi  penolong  bagi  sebagian  yang  lain.  Mereka  menyuruh  (berbuat) yang makruf,  dan  mencegah  dari  yang  mungkar,melaksanakan  shalat,  menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 71)

Masyarakat modern mendambakan sebuah sistem kehidupan dimana elemen-eleman  dalam  masyarakat  mempunyai  peranan  yang  dominan  dalam  menata kehidupan  yang  mereka  inginkan.  Masyarakat  yang  demikian  kerap  disebut masyarakat  sipil  (Civil  Society),  namun  beberapa  cendikiawan  Muslim  di  Asia Tenggara lebih suka menggunakan istilah masyarakat madani sebagai gantinya.

Dalam Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia masyarakat  madani  diartikan sebagai,  “Masyarakat  sipil yang  menjunjung  tinggi  norma,  nilai-nilai  dan  hukum yang  ditopang  oleh  penguasaan  teknologi  yang  berpereradaban,  yang  didasarkan oleh iman dan ilmu.”

Read more: Karakteristik Masyarakat Madani dalam Al-Qur’an

Biarkan Mereka Menghujat, Alquran Tetap Terpelihara

Oleh: Dr. Ahsin Sakho Muhammad, MA.

Alquran dihujat? Umat Islam patut membelanya kendati tak mesti meletupkan emosi berlebihan. Agar tak terjebak kemarahan berlebihan, selaiknya umat Islam mengedepankan rasionalitas. Misalkan, memahami Alquran senantiasa menjadi sasaran penghujatan, karena kemurnian dan kesempurnaannya. Ajakan sejuk itu dikumandangkan Dr. Ahsin Sakho Muhammad. Pakar tafsir dari Institut Ilmu Alquran (IIQ) ini menegaskan, penghujatan itu tak sekadar di abad modern ini, tetapi sejak zaman Nabi Muhammad SAW Alquran telah menjadi sasaran penghujatan. ''Alquran itu dituding palsu,'' ujar pria kelahiran Cirebon, 21 Februari 1956 ini.

Pengajar di pascasarjana Universitas Paramadina Mulya ini mengisahkan, sekelompok Yahudi dan Nasrani di masa Rasulullah mencoba memutarbalikkan isi dan ajaran Alquran. Tujuannya agar umat Islam tak memiliki kitab suci yang asli. Juga agar borok kaum non-Muslim itu tak diketahui umat hingga di zaman modern ini. ''Di Alquran kan dijelaskan umat-umat terdahulu, berikut penyelewengan dan tindakan negatifnya," tambah dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

Kendati senantiasa dihujat, doktor lulusan Universitas Jamiah Islamiyah, Madinah, Arab Saudi tersebut, yakin dengan janji Allah bahwa Alquran akan tetap terjaga dan akan lestari sepanjang zaman. Untuk mengetahui lebih jauh, berikut petikan wawancara Republika dengan Dr Ahsin seputar otentisitas Alquran dan tudingan-tudingan terhadapnya.

Read more: Biarkan Mereka Menghujat, Alquran Tetap Terpelihara

 

voice of iiq

KOLOM PENGASUH