PESANTREN IIQ

- INSTITUT - ILMU - QUR'AN - JAKARTA -

ARTIKEL IIQ

Scenario di Balik Semburan Lapindo

(Lomba Artikel 5 Thn Kasus Lapindo)

Oleh : Inarotul Ain, Alumni Mahasiswa Pascasarjana IIQ Jakarta

Semburan itu terjadi tepat pukul 22.00 WIB pada hari senin, 29 Mei 2006 hanya berselang dua hari setelah terjadinya gempa yang meluluh-lantakkan Kab. Bantul di Yogyakarta dan Klaten di Jawa tengah. ‘Untung’, ada gempa dua hari sebelum lumpur menyembur. Dengan mengucapkan rasa terimakasih pada Yogyakarta, Lapindo kemudian memanfaatkan ‘adegan’ gempa bumi itu sebagai alasan utama terjadinya semburan lumpur.

Selain itu, perdebatan ilmiah tentang penyebab terjadinya semburan lumpur mengindikasikan adanya muatan kepentingan politik dan ekonomi yang bermain dalam peristiwa semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo itu.

Salah satu contoh muatan kepentingan politik yaitu saat ASPERMIGAS menggelar pertemuan ilmiah di Club Bimasena Jakarta pada 7 Desember 2006 dengan dalih mencari titik temu, pertemuan ini dihadiri oleh ahli Geologi, Geofisika dan perminyakan serta 30 masyarakat korban dari Sidoarjo. Forum pertemuan ilmiah ini diharapkan memberikan kajian dan pandanngan yang komprehensif dan alternatif penanggulangan yang tepat dan tuntas.

Read more: Scenario di Balik Semburan Lapindo

KH. Sholeh Darat Pelopor Penerjemahan Al-Qur’an

Peran Kiai Soleh Darat dalam menyebarkan Islam tak hanya semasa hidupnya maupun warisan pesantrennya. Sebab murid-muridnya adalah para pendiri organisasi Islam, pengasuh pesantren dan pendakwah agama yang terus menghasilkan kader-kader da’i berikutnya. Sampai akhir zaman.

Wali ini yang hidup sezaman dengan dua waliyullah besar lainnya, Syekh Nawawi Al-Bantani dan Kiai Kholil Bangkalan, Madura ini disebut sebagai gurunya para ulama tanah Jawa.

Murid-muridnya itu, diantaranya, KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Syaikh Mahfudh Termas Pacitan (pendiri Pondok Pesantren Termas), KH Idris (pendiri Pondok Pesantren Jamsaren Solo), KH Sya’ban (ahli falak dari Semarang), Penghulu Tafsir Anom dari Keraton Surakarta, KH Dalhar (pendiri Pondok Pesantren Watucongol, Muntilan), KH Munawir (Krapyak Yogyakarta), KH Abdul Wahab Chasbullah Tambak Beras Jombang, KH Abas Djamil Buntet Cirebon, KH Raden Asnawi Kudus, KH Bisri Syansuri Denanyar Jombang dan lain-lainnya. Para murid itu ada yang belajar pada Kiai Soleh Darat sewaktu masih di Mekah maupun setelah di  Semarang.

”Bisa dikatakan, Kiai Soleh Darat adalah embahnya para ulama di Jawa, karena menjadi guru dari guru ulama yang ada sekarang,” terang KH Ahmad Hadlor Ihsan, mantan Rois Syuriyah PCNU Kota Semarang yang juga pengasuh Ponpes Al-Islah Mangkang, Tugu, Semarang.

Semasa hidupnya, selain mengajar masyarakat awam, Kiai Soleh Darat juga aktif mengisi pengajian di kalangan priyayi. Di antara jamaah pengajiannya adalah Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara.

Read more: KH. Sholeh Darat Pelopor Penerjemahan Al-Qur’an

Dr. Hj. Romlah Askar, M.A., dosen matakuliah Tahfizh Hadis di IIQ Jakarta.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfir­man yang artinya, “Dan apabila dibacakan Al-Qur`an, maka dengar­kanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat,” (QS. Al-A`râf [7]: 204).

Jika kita lihat dari artinya, ayat ini meme-rintahkan kita untuk mendengarkan dan memperhatikan Al-Qur`an. Hal ini dapat dili­hat dari fi’il amr dalam ayat tersebut, istami’u dananshitu. Ulama berbeda pendapat ten­tang ketegasan dan kondisi objek perintah ayat tersebut. Ada beberapa poin tentang ayat ini.

1. Ulama memahami ayat di atas secara khusus, mereka mengaitkannya dengan as­bâbun-nuzûl. Dalam hal ini, ada dua riwayat yang menjelaskan tentang sebab turunnya. Pertama, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan bacaan imam dalam shalat. Artinya, ketika imam membaca ayat Al-Qu`ran, mak­mum harus diam dan mendengarkan. Imam as-Suyûthi dalam tafsirnya ad-Durr al-Mantsûr fî at-Tafsîr bi al-Ma’tsûr, di antara riwayat yang menguatkannya yaitu hadis riwayat Abu Hurairah tentang surah al-A’raf ayat 204, “Ayat ini turun ketika para jamaah mengangkat su­ara di belakang Nabi dalam shalat.” Hadis ini dikeluarkan oleh Ibnu Jarîr, Ibnu Abî Hâtim, al-Baihaqî, dan Ibnu `Asâkir.

Imam Ahmad menerangkan bahwa umat Islam sepakat tentang surah al-A’râf ayat 204 ini berkenaan dengan bacaan shalat. Bahkan, Ibnu Abbâs pernah ditanya mengenai ayat tersebut, apakah ayat ini dipahami secara umum, beliau menjawab bahwa ayat ini khu­sus dalam salat wajib.

Read more: Dr. Hj. Romlah Askar, M.A., dosen matakuliah Tahfizh Hadis di IIQ Jakarta.

KH Ali Mustafa Yaqub: Pajak Demi Pembangunan Nasional


Ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-67 tahun ini dibayangi krisis ekonomi yang melanda berbagai belahan dunia, khususnya Eropa dan Amerika Serikat. Krisis ini mulai terasa dampaknya di dalam negeri dengan menurunnya transaksi ekspor-impor yang turut berkontribusi dalam pendapatan negara.

Terkait hal ini, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) KH Ali Mustafa Yaqub mengajak seluruh umat untuk mengisi kemerdekaan dengan terus mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan. Di antara beberapa caranya, adalah dengan berpartisipasi aktif dalam pembayaran pajak sebagai modal utama pembangunan.  "Membayar pajak adalah kewajiban bagi seluruh warga negara," kata pakar ilmu hadits dan guru besar Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta ini.

Pada 2012 ini, pemerintah menargetkan pendapatan negara dari sektor pajak sebesar Rp 885 triliun. Pada semester pertama tahun ini, penerimaan pajak baru sekitar 45 persen dari target yakni sekitar Rp 387 triliun.

Read more: KH Ali Mustafa Yaqub: Pajak Demi Pembangunan Nasional

Mengkritisi Riwayat Thala’ Al-Badr ‘Alaina

Oleh: Ali Mustafa Ya’qub

Hingga kini, masih banyak kaum muslim yang secara tidak sadar terkecoh oleh riwayat-riwayat pseudo, riwayat-riwayat yang “tidak jelas” asal-usulnya. Riwayat-riwayat “tidak jelas” itu malah kerapkali diklaim sebagai bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Dengan demikian, pada tahap selanjutnya, riwayat-riwayat itu menjadi sah dan malah dijadikan dalil untuk suatu kegiatan yang dilaksanakan di masyarakat. Sebagai misal, banyak kaum muslim yang meyakini adanya riwayat penyambutan Nabi Muhammad saw. tatkala berhijrah ke Yatsrib , dengan qashidah Thala’ al-Badr’Alaina plus iringan rebana. Malah diriwayatkan, penyambutan itu dilakukan oleh para gadis belia. Padahal, otentisitas riwayat itu, dari dulu masih terus diperdebatkan, hingga kini.

Kendati demikian, seakan kaum muslim tak peduli dan acuh tak acuh terhadap otentisitas riwayat itu. Mereka sudah terlanjur menjustifikasi riwayat itu sebagai sesuatu yang valid dan benar-benar bersumber dari ajaran agama. Berdasarkan justifikasi yang tidak ilmiah, karena ikut-ikutan itu, perilaku penyambutan dengan lantunan qashidah Thala’ al-Badr ‘Alaina plus iringan rebana, selalu menyertai penyambutan kedatangan tokoh agama (atau terkadang pejabat pemerintah). Lalu, kenapa masyarakat muslim perlu repot-repot menyambut kedatangan mereka dengan qashidah dan rebana? Hal itu karena ulama yang meraka sambut, merupakan ahli waris Nabi Muhammad SAW. Mereka harus mendapatkan penyambutan semeriah penyambutan Nabi Muhammad SAW tatkala berhijrah ke Yatsrib. Selain itu, alasan melestarikan tradisi Nabi Muhammad SAW pun terkadang dikedapankan. Karena, penyambutan itu juga merupakan bagian penting dari tradisi Islam. Bahkan lebih jauh, peristiwa penyambutan itu dijadikan dalil oleh sementara orang tentang dibolehkannya mengadakan pagelaran musik dan dakwah, sehingga kemudian muncul istilah-istilah Nada dan Dakwah, Dangdut dan Dakwah, dan lain sebagainya.

Read more: Mengkritisi Riwayat Thala’ Al-Badr ‘Alaina

 

voice of iiq

KOLOM PENGASUH