PESANTREN IIQ

- INSTITUT - ILMU - QUR'AN - JAKARTA -

ARTIKEL IIQ

Mengkaji Kesahihan Hadis Boleh Tidaknya Perempuan menjadi Imam

DR. AHMAD LUTFI FATHULLAH, MA.

Masalah boleh tidaknya perempuan meng-imami laki-laki atau menjadi khatib Jum’at, nyaris jadi perbicaraan hangat di hampir semua lapisan kaum muslimin ta’at beberapa minggu terahir ini setelah munculnya kasus Aimnah Dawud yang menjadi khatib dan imam salat Jum’at di Amerika. Pro kontra pun tak terhindarkan. Beberapa tulisan telah dimuat di beberapa media masa. Tulisan ini khusus akan menyoroti keabsahan/kesahihan hadis yang menjadi landasan pemboleh tidaknya hal itu dilakukan.
Hadis yang dijadikan dasar pembolehan, diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya dan Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya. Berikut riwayat keduanya dalam kitab masing-masing.

Read more: Mengkaji Kesahihan Hadis Boleh Tidaknya Perempuan menjadi Imam

Perbedaan Pandangan Ulama Mengenai Israiliyat dalam Tafsir Al-Qur’an

 

Oleh: Dr. Anshori, LAL

Dekan Fakultas Tarbiyah IIQ

Adapun pendapat ulama dibagi menjadi dua yaitu ulama klasik dan kontemporer. Ulama klasik seperti Ibnu Taimiyah beliau bertolak dari sudut  pandang kedua yaitu bila israiliyat sejalan dengan ajaran islam dapat dibenarkan dan boleh diriwayatkan, sedangkan israiliyat yang tidak sejalan dengan ajaran islam harus ditolak dan tidak boleh diriwayatkan dan israiliyat yang tidak masuk pada keduanya tidak perlu dibenarkan dan tidak perlu didustakan, tetapi boleh diriwayatkan, dalam masalah agama israiliyat semacam ini tidak banyak memberikan faidah.

Sementara ulama kontemporer seperti Muhammad Abduh mengkritik kebiasaan ulama tafsir generasi pertama yang banyak menggunakan israiliyat sebagai penjelas al-Qurán, menurutnya kebiasaan itu telah mendistorsi pemahaman terhadap Islam. Sikap keras diperlihatkan oleh muridnya Rasyid Ridho, ia mengatakan bahwa riwayat-riwayat israiliyat yang secara ekstrim diriwayatkan oleh para ulama sebenarnya telah keluar dari konteks al-Qurán.

Sikap kaum muslimin terhadap syareat (ajaran) ahlu al-kitab yaitu :”Bawa syareat ahlu al-kitab itu sudah dinasakh (dihapus), bahwa para Nabi ummat terdahulu seandainya masih hidup maka pasti mereka beriman kepada Islam dan mereka tidak akan menerima selain islam, bahkan mereka gembira terhadap kehadiran islam dan akan meminta ummatnya untuk mentaati islam sebagaimana Allah Berfirman melalui ucapan Nabi Isa:

“Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (QS. As-Shaff: 6)

Read more: Perbedaan Pandangan Ulama Mengenai Israiliyat dalam Tafsir Al-Qur’an

POLIGAMI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

Oleh: Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, MA.

Dewasa ini banyak muncul dipermukaan berbagai polemik yang berkaitan dengan usulan perubahan Undang-Undang Perkawinan (UUP). Salah satunya adalah masalah poligami. Berkaitan dengan hal ini, maka masalah pokok yang perlu kita kaji lebih lanjut adalah bagaimana pandangan Islam mengenai poligami.(2)

Pengertian Poligami

Poligami ialah mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang sama. Berpoligami atau menjalankan (melakukan) poligami sama dengan poligini yaitu mengawini beberapa wanita dalam waktu yang sama.

Drs. Sidi Ghazalba mengatakan bahwa Poligami adalah perkawinan antara seorang laki-laki dengan lebih dari satu orang perempuan. Lawannya adalah poliandri, yaitu perkawinan antara seorang perempuan dengan beberapa orang laki-laki.

Sebenarnya istilah poligami itu mengandung pengertian poligini dan poliandri. Tetapi karena poligami lebih banyak dikenal terutama di Indonesia dan negara-negara yang memakai hukum Islam, maka tanggapan tentang poligini ialah poligami. (3)

Tantangan orientalis terhadap Poligami

Para orientalis mengklaim bahwa poligami itu merupakan produk ajaran Islam. Dengan tujuan menteror produk dan menghina ajaran Islam, mereka banyak mengemukakan segi-segi negatif dalam berpoligami.

Read more: POLIGAMI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

KEMITRAAN SUAMI ISTRI UNTUK PEMBERDAYAAN DIRI BERSAMA

 

Oleh: Dr. Faizah Ali Syibromalisi, MA

PENDAHULUAN

Islam diturunkan sebagai Rahmat bagi seluruh alam termasuk kepada perempuan. Nilai-nilai fundamental yang mendasari ajaran Islam seperti perdamaian, pembebasan dari penindasan. Persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan banyak disebutkan dalam Al Quran. Nilai-nilai tersebut diterapkan Nabi Muhammad Saw yang sangat menghormati perempuan dan memperlakukan perempuan sebagai .dalam perjuangan.

Namun kenyataan dewasa ini menunjukkan kesenjangan antara ajaran Islam dengan situasi dan kondisi perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Kaum perempuan masih tertinggal dari mitranya, yaitu kaum laki-laki. Baik dari segi pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, pengambilan keputusan dll.

Masalahnya bukan pada ajaran Al Qur’an tapi pada pembumian ajaran-ajaran itu masih banyak kendala seperti budaya, tradisi pemahaman yang keliru terhadap ayat-ayat Al Qur’an dari perilaku individual yang menentukan status kaum perempuan di masyarakat.

Dalam rangka memperingati hari perempuan, bahasan ini mencoba memaparkan kembali kemitraan hubungan laki-laki dan perempuan dalam keluarga dan pemberdayaan diri masing-masing, meskipun mereka terikat dalam lembaga pernikahan.

Read more: KEMITRAAN SUAMI ISTRI UNTUK PEMBERDAYAAN DIRI BERSAMA

KELUARGA SAKINAH

Oleh : Faizah Ali Syibromalisi

Keluarga adalah jiwa masyarakat dan tulang punggungnya. Kesejahteraan bangsa atau kehancurannya adalah cerminan dari keluarga-keluarga yang hidup pada masyarakat bangsa itu. Pendapat di atas menjadi sebab mengapa Islam memberikan perhatian yang begitu besar terhadap pembinaan keluarga. Dalam Alquran kita dapati ayat yang menjelaskan tujuan perkawinana (QS Arrum 30:21, Annahl 16:72).

Demi terpeliharanya kehidupan keluarga yang harmonis dan sakinah maka Islam banyak memberikan petunjuk dan peraturan karena keluarga diibaratkan sebagai bengunan. Agar bangunana itu bisa kokoh berdiri dan tahan hantaman badai dan goncangan gempa, keluarga harus didirikan di atas bangunan yang kokoh. Fondasinya adalah ajaran agama, kesiapan fisik dan mental calon ayah dan ibu. Bagi yang belum memenuhi syarat maka dia harus bersabar dan berpuasa sebagai cara memelihara diri (QS Annur 24:33).

Pasangan suami istri menurut Islam harus seagama, bahkan dianjurkan memilih istri yang solehah jika ada pilihan antara wanita cantik, kaya, dan punya keturunan yang baik. Menikah adalah cara untuk mempunyai pasangan. Kata menikah terulang 23 kali dalam Alquran. Menikah atau berpasangan adalah fitrah dan ketetapan ilahi (QS Azzariat 51:49, Yassin 36:36).

Dalam surat Arrum (30:21) dijelaskan bahwa perkawinan bertujuan mencari ketenteraman atau sakinah. Sakinah asal katanya sakana artinya tenang setelah bergejolak, itu sebabnya pisau dinamakan sikkin karena pisau sebagai alat menjadikan binatang yang disembelih tenang tidak bergerak setelah ia tadinya meronta-ronta. Sakinah dalam perkawinan adalah ketenangnan yang aktif dan dinamis, tidak seperti binatang yang disemeblih dan menjadi tenang.

Read more: KELUARGA SAKINAH

 

voice of iiq

KOLOM PENGASUH