PESANTREN IIQ

- INSTITUT - ILMU - QUR'AN - JAKARTA -

ARTIKEL IIQ

Peran Ulama dalam Pembentukan Masyarakat Multikultural

Oleh Dr. Faizah Ali Syibrimalisi, M.A.

Pendahuluan

Dalam konteks hidup di era globalisasi, mengharuskan orang hidup berdampingan dengan kelompok yang berbeda dan harus saling menghargai  terhadap perbedaan.  Paham  multikulturalisme sangat diperlukan karena tanpa adanya pengertian yang baik, kerukunan tidak akan tercipta dengan baik.  Berbagai prasangka akan dengan gampang muncul dan menyulut konflik.  Maka agenda yang penting dalam mengaplikasikan  multikulturalisme adalah menerapkan sistem pendidikan dan sosialisasi paham multikulturalisme yang mengapresiasi perbedaaan suku atau agama.

Dalam makalah yang  sederhana ini, penulis akan mengemukakan beberapa nilai-nilai Islam yang dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan para Da’i/Da’iyah, yang akan menjadi landasan bagi terwujudnya masyarakat multikultural sehingga melalui proses pembelajaran yang memadai dan mengapresiasi perbedaan agama ini.  Multikulturalisme bisa menguatkan sistem kehidupan demokrasi yang menjamin terciptanya masyarakat yang hidup berdampingan dengan damai dalam kesatuan berbangsa dan bernegara.

Read more: Peran Ulama dalam Pembentukan Masyarakat Multikultural

Sejarah Alquran ke Maroko

Oleh Ali Mursyid

Al-Qur’an masuk ke Maroko terkait dengan ekspansi kekuasaan Islam besar-besaran ke Andalus dan Maroko, sebelum akhir abad 1 H. Hal ini juga terkait dengan ajaran Islam yang mulai menyebar.

Sejarah mencatat bahwa Al-Qur’an masuk ke Maroko, melalui dua cara, melalui cara: (1) Dihafalkan (mahfûzhan fi al-shudûr) dan; (2) Melalui mushaf-mushaf (mudawwinan fi al-mashâhif).

Al-Qur’an masuk Maroko melalui hafalan

Para pahlawan penyebar Islam, adalah para pejuang di siang hari dan ahli ulama di malam hari. Selain rajin melakukan ekspansi, mereka juga rajin menyebarkan Islam dan al-Qur’an. Dengan begitu, Al-Qur’an menyebar dengan cepat, seiring perluasan wilayah kekhilafahan Islam. Al-Qur’an pun diterima oleh orang-orang Maroko, mula-mula dalam bentuk hafalan, minimal hafalan ayat atau surah yang biasa dibaca dalam shalat.

Disamping itu, Islam juga merupakan agama yang mewajibkan setiap pemeluknya untuk membaca al-Qur’an. Karena itulah, di awal masuk dan menyebarnya Islam di Maroko, bacaan al-Qur’an terdengar di mana-mana, di seantero negeri ini. Meski pada mulanya, masyarakat tidak banyak paham makna al-Qur’an.

Baru beberapa masa kemudian, ketika penduduk Maroko merasa perlu memahami makna kandungan Al-Qur’an dan bukan sekedar membacanya saja, maka kemudian muncullah upaya-upaya untuk mempelajari bahasa Arab. Bukan sekedar itu, upaya ini pada akhirnya menjadi gerakan ta’rîb (arabisasi) di Maroko. Ini semua dilakukan untuk tujuan mulia, memahami bahasa Al-Qur’an

Read more: Sejarah Alquran ke Maroko

Islam Tidak Mengenal Konsep Gender

Dr. Faizah Ali Sibromalisi

faizahREPUBLIKA.CO.ID, Budaya yang semakin terbuka dan bebas menghadapkan perempuan pada lebih banyak tantangan dan ujian. Sebagai dampaknya, perempuan sangat mungkin akan melupakan peran dan fungsinya atas nama emansipasi dan hak asasi. Padahal, sebagai khalifah, baik laki-laki maupun perempuan diberi kesempatan yang sama untuk beribadah dan beramal shaleh melalui fungsi dan peran mereka masing-masing. Hal itu dipaparkan dosen sekaligus pakar tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Faizah Ali Sibromalisi. Menurutnya, permasalahan perempuan tidak mengenal waktu atau era tertentu. “Di zaman Kartini atau di zaman modern, perempuan hidup di dalam ujian,” kata peraih gelar doktor dari Universitas Al-Azhar Kairo itu.

Berikut kutipan wawancaranya dengan reporter Republika, Devi A. Oktavika. Bagaimana sesungguhnya Islam berbicara tentang kedudukan laki-laki dan perempuan?

Dalam Alquran, Allah berbicara tentang laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek, termasuk aspek pribadi, sosial, maupun gender. Gender itu bukan kodrati, bukan pula sesuatu yang fisik atau jasmaniah. Ia merupakan hasil bentukan pemikiran manusia yang dipengaruhi budaya, termasuk agama dan adat-istiadat.

Read more: Islam Tidak Mengenal Konsep Gender

Hukum Islam Sangat Demokratis

Sekitar dua tahun lalu, tiga tokoh Muslimah diminta bergabung dalam tim Pengurus-utamaan Gender di Departemen Agama. Mereka antara lain Prof DR Hj Huzaemah Taido Yanggo, Prof Dr Nabilah Lubis, dan Prof Dr Zakiah Darajat. Mereka bertiga lantas datang ke pertemuan. Seperti dikatakan Nabilah Lubis -- ditulis sebagai kata sambutan dalam buku Kontroversi Revisi Kompilasi Hukum Islam -- di sana dijelaskan bahwa salah satu tujuan pembentukan tim adalah ingin memperjuangkan nasib kaum perempuan yang dinilai masih belum mendapat peran signifikan. Namun seterusnya, bahasan pertemuan lebih banyak mengarah ke persoalan perempuan yang diperlakukan secara tidak adil oleh kaum lelaki. Banyak argumen dikemukakan yang intinya menghendaki agar kaidah fikih diperbarui karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Merasa kurang sependapat, ketiganya mengambil sikap berseberangan untuk kemudian ditinggalkan secara perlahan. Waktu membuktikan, tim ini pun melahirkan draf Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang belakangan memicu kontroversi. Trio Huzaemah, Zakiah, dan Nabilah tidak berdiam diri. Terutama Huzaemah yang memang pakar di bidang Perbandingan Mazhab Hukum Islam. Mereka kemudian menyusun dan menerbitkan buku Kontroversi Revisi Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam Perspektif Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia. Berikut petikan wawancara wartawan Republika Yusuf Assidiq dengan Pembantu Dekan I Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini : Bagaimana awalnya Anda tergerak untuk menyusun buku Kontroversi Revisi KHI ini?

Read more: Hukum Islam Sangat Demokratis

Problematika Uang Haram Dalam Kajian Ilmu Fiqh

 

voice of iiq

KOLOM PENGASUH