PESANTREN IIQ

- INSTITUT - ILMU - QUR'AN - JAKARTA -

IIQ DALAM MEDIA

DR Ahmad Lutfi Fathullah, MA: Membuat Hadits Mudah Dipelajari

 

Sebagian orang sengaja menolak Hadits karena dianggap rumit dan njelimet. Untuk mencari sebuah Hadits saja harus membuka kitab-kitab yang jumlahnya tidak sedikit. Belum lagi kitab-kitab itu ditulis oleh banyak orang sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan sangat besar.

Atas alasan itu sebagian kaum Muslim tidak mau menerima Hadits sebagai hujjah. Bahkan, mereka sengaja membuat metodologi sendiri dalam memahami dien Islam, yaitu hanya menginterpretasi al-Qur’an berdasar logika saja, tanpa melirik sunnah.

“Padahal sahabat telah sepakat bahwa Hadits itu hujjah,” kata DR Lutfi Fathullah, doktor bidang Hadits. Tidak ada satu pun sahabat yang hanya beramal dengan al-Qur’an. Kalau pun ada, itu karena riwayat yang menerangkan soal Hadits tersebut meragukannya, bukan karena menolak Hadits tersebut. Mereka hanya tidak yakin dengan kesahihan sebuah Hadits yang mereka terima atau karena ada Hadits lain yang lebih kuat.

“Mereka yang tidak mau menerima Hadits berarti tidak paham al-Qur`an atau malas belajar Hadits,” terang dosen IIQ Jakarta ini.

Read more: DR Ahmad Lutfi Fathullah, MA: Membuat Hadits Mudah Dipelajari

Perkenalkan Qiraat di Dunia Internasional

Dra. Hj. Maria Ulfa, MA.

Perkenalkan Qiraat di Dunia Internasional (www.dutamasyarakat.com)

mariaSebagai agama paripurna, Islam sangat menghargai kesenian. Salah satu bukti nyata adalah bagaimana ayat-ayat dalam Al-Quran tak lain adalah bait-bait yang tersusun rapi. Dan ini diakui dunia, termasuk oleh para ahli puisi (syair) zaman Jahiliyah, era di mana Al-Quran hadir di dalamnya.

Selanjutnya, apresiasi terhadap nilai estetika wahyu Ilahi itu dikembangkan dalam bentuk cara membacanya, yakni dengan lagu. Maka lahirlah apa yang dikenal dengan Qiraat (bin-Nagham), yang di tengah masyarakat kita sudah tak asing lagi. Dalam acara-acara seremonial, sudah menjadi tradisi umat Islam di sini menjadikannya sebagai mata acara pembuka.

Read more: Perkenalkan Qiraat di Dunia Internasional

Perempuan dikhitan Tak Langgar HAM

huzaemahOleh: Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo, MA.

Jakarta (Pinmas) —- Perempuan muslim yang tidak dikhitan, dinilai melanggar hak asasi manusia (HAM). Karena itu, anak perempuan harus dikhitan orangtuanya, karena manfaat bagi yang bersangkutan sangat besar. Di samping menjaga kesehatan, khitan bagi anak perempuan juga dapat menjaga nafsu berlebihan. Penegasan ini disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof DR Hj Huzaemah Tahido Yanggo, pada konferensi internasional tentang fatwa, yang berlangsung sejak 24 – 26 Desember di Hotel Borobudur, Jakarta.

Mempresentasikan makalah bertajuk Pentingnya Khitan Bagi Anak Perempuan, Rabu (26/12), Huzaemah menjelaskan bahwa khitan bagi perempuan memiliki manfaat besar. “Jika tidak dikhitan, hal itu justru bisa membawa keburukan pada diri perempuan itu sendiri,” terang Huzaemah. Lebih lanjut, Huzaemah menjelaskan bahwa khitan perempuan sudah lama dilaksanakan dalam Islam. Bahkan, Rasulullah Saw. mengkhitan putrinya sendiri. Namun demikian, Huzaemah tegaskan bahwa khitan bagi anak perempuan berbeda dengan khitan bagi anak laki-laki. Untuk lelaki, ketika dikhitan mengundang banyak orang (sesuai kultur daerahnya), kalau perempuan tidak. Bahkan khitan untuk lelaki juga ada yang dilakukan melalui khitanan massal.

Tentang ini, Huzaemah sadar bahwa pendapatnya tidak sejalan dengan imbauan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Sebagaimana diketahui, WHO sebelumnya mengelurkan imbauan agar perempuan dilarang untuk dikhitan. Pasalnya, hal tersebut merupakan tindakan melanggar HAM. Selain itu, khitan dinilai bisa mengurangi kenikmatan perempuan dalam melakukan aktivitas seksualitas bersama pasangannya.

Read more: Perempuan dikhitan Tak Langgar HAM

 

voice of iiq

KOLOM PENGASUH